badge

Wednesday, 20 January 2016

WISATA NGANJUK : Sawahan nan Mewah


 Akhir pekan  di minggu ketiga bulan Januari 2016, saya mengisi kegiatan dengan memberikan bimbingan privat kepada salah satu siswa. Diakhir pertemuan, ia meminta izin untuk libur les pada pertemuan selanjutnya dengan alasan ingin berwisata di Kec Sawahan Nganjuk. Beberapa hal yang terkengkang dipikiran saya adalah “Nganjuk wisatanya apa aja? Paling cuma sedudo dan Roro Kuning!"
“lho mbak, jangan salah. Udah ada yang hits di Nganjuk” Jawab murid IPA yang bersekolah di SMA Favorit di Nganjuk sambil menunjukan instagram dengan hastag #explorenganjuk

Hastag itu berhasil meracuniku kemudian menelusuri kembali seusai tiba di rumah. Racun itu telah menginang rasa penasaran dan terlintas pernyataan teman di chat “Dolanmu (mainmu) sudah terlalu jauh hingga Raja Ampat, permata wisata Indonesia, yang dekat sudahkah kamu kunjungi???” kemudian saya berdahlih “Nganjuk emang ada apa?? Diluar Nganjuk kita banyak disuguhkan keelokan yang menawan”

Ini merupakan ekspedisi pertama karena selama ini belum pernah berwisata disekitar lereng gunung Wilis. Pernah sekali menjelajahi Gunung Wilis saat SMA mengikuti Napak Tilas Jendral Soedirman Kediri-Bajulan yang akhirnya berhasil melewati garis finish. Saya mengajak Mas Yanuar dan dia menjawab OK, Kemudian mencari informasi dari bagaimana sumber di internet tentang akses menuju kesana hingga google map sudah ku siapkan mencari rute perjalanan.

BUKIT NGROTO

Watu Tumpuk atau Bukit Ngroto merupakan hits instagram
Tak perlu menunggu lama untuk mengeksekusi , Selasa, 19 Januari 2016 , kita siap menuju Kec Sawahan berangkat dari Tanjungkalang Kec Ngronggot pukul 8.00 WIB. Tujuan awal ialah mencari Desa Margopatut karena ada wisata yang Hits yaitu “Bukit Ngroto”. Memasuki kec Sawahan saya mulai membuka aplikasi map di HP dan menunjukan lokasi SMP N 1 Sawahan. Kami bertanya kepada warga tentang lokasi wisata itu disekitar warung di dekat sekolah   “Bukit Ngroto atau watu tumpuk itu to? Ada pertigaan kecil didepan belok kiri ikuti jalan dan petunjuk arah”  Ujar bapak penjual nasi bungkus.

Sesampai pertigaan, disini tidak ada papan petunjuk menuju bukit ngroto. Sebuah jalan nan sempit ketika haluan harus berbelok ke kiri menuju arah timur dan Bus takan mampu untuk sampai dilokasi tujuan. Jika menaiki roda empat pun harus berhati-hati karena jalan disekitar sini rusak parah hingga pondasi dasar jalan berupa tumpukan bebatuanpun bisa kalian lihat. Hanya segelintir aspal yang menyelimutinya badan jalan. Saya menyarankan lebih baik menaiki sepeda motor jika menuju kesini dan sebelum bepergian periksa rem dan ban jangan sampai ada masalah karena tanjakannya memiliki kemiringan hampir 50-60 derajat. Setiap tikungan terdapat papan petunjuk arah menuju bukit ngroto dan anda akan disuguhkan pemandangan lereng Gunung Wilis yang membentang luas permata hijau yang sangat menawan.

Pemandangan Lereng Gunung Wilis

Jalan menuju Bukit 


Butuh waktu 15-20 menit sampai di lokasi dari petigaan jalan utama. Tidak ada gapura selamat datang atau papan informasi yang tersedia . Kami memutuskan untuk rehat sejenak sebelum menaiki bukit (200 meter) di parkir bawah disalah satu warung dan sekaligus hunian. Gadis jelita memiliki senyum manis membuatkan teh pesanan kami, aroma air yang dimasak menggunakan perapian kayu terasa nikmat. Perempuan 19 tahun ini sudah berkeluarga, ia hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang SD. Hati tergores ketika ia hanya menyebutkan jenjang pendidikan terakhirnya. Pemerintah mewajibkan wajib belajar 9 tahun seakan tak tersentuh baginya apalagi ini masih di wilayah Nganjuk yang tak jauh dari Ibu Kota dibandingkan Papua. Untuk menyambung hidupnya ia berjualanan gorengan dan pecel dengan harga yang murah dan bercerita ketika hari sabtu dan minggu tempat wisata ini banyak anak kawula muda berdatangan. “Saya bersyukur mbak, sejak tempat ini terkenal banyak orang berdatangan dan merupakan rejeki bagi masyarakat sekitar”  sambil mengendong anaknya.
Rumah terdekat dari Watu Tumpuk 
Ia menceritakan watu tumpuk itu adalah lahan yang dimiliki seorang dokter. Lahan tersebut direncanakan akan dibangun sebuah Villa keluarga dan pemilik membangun dimulai dari sebuah taman yang unik berupa susunan pecahan batu kali yang telah dipotong sedemikian epik hingga terciptanya taman bebatuan yang memiliki nilai artistik. Mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan lereng Wilis yang cantik dari atas bukit seakan inilah bukit bintang di Nganjuk.

Ketika kami memutuskan untuk memarkir motor di warung dan berjalan kaki menuju bukit, tanpa sengaja saya bertemu dengan kawan lama semasa perjuangan di SMPN 1 Prambon. 4 tahun tak bersua semenjak reuni dan kini bertemu di Bukit Ngroto. Kita saling tanya “dari siapa kamu tau tempat terpelosok ini yaitu bukit ngroto?”
Adanya sosial media seperti Instagram membius kawula muda berkunjung ditempat ini untuk sekedar selfie datau wefie. Pemilik tidak menarik reterbusi dan mengijinkan warga sekitar untuk membuka warung dan penyedia jasa parkir yang dikelola masyarakat disekitar tempat itu. Sungguh berkah bagi masyarakat bukit Ngroto wisata buatan ini. Sebelah taman, saya menjumpai pekerja watu tumpuk itu, mereka mengatakan taman itu akan diperluas dan nantinya Villa juga akan dibangun.






EMBUNG ESTUMULYO
Kami memutuskan untuk tidak berlama-lama karena kurangnya tempat untuk berteduh dengan terik matahari semakin menerka ubun-ubun. Disini merupakan area persawahaan dan perkebunan warga dengan komiditi berupa jagung dan kacang-kacangan yang cocok bagi tanah di Bukit Ngroto.  Saya bertanya kepada Nuh selanjutnya akan kemana dan meminta rekomendasi padanya  mengingat ia berasal dari Kecamatan seberang dari Sawahan. Dengan informasi yang saya kantongi di Internet di daerah dekat sini terdapat “Embung”. Nuh ternyata juga tidak mengetahuinya. Berbekal informasi dari warga  kami bertiga memutuskan ke “Embung Estumulyo” yang lokasinya berada di dekat Air Terjun Sedudo.
Perjalan mengharuskan untuk kembali pada jalan utama di pertigaan dekat SMPN 1 Sawahan dan menuju selatan sekitar 2-3 KM. Petujuk utama kami adalah Hotel Sanggrahan yang berada di bahu kanan jalan terdapat pertigaan dan petunjuk banner arah ke Embung Estumulyo. Ikuti saja petujuk, jika terdapat persimpangan lagi ikuti  petunjuknya atau jangan malu untuk bertanya warga disekitar. Akses menuju embung tidak sesulit di Bukit Ngroto walau sensasi menanjak tetap ada.

Aroma rempah-rempah jamu tercium selama perjalanan karena terdapat produsen jamu dan indra mata akan disuguhkan pemandangan hutam pinus. Tidak ada tiket masuk atau parkir, semua masih gratis. Hijaunya air di Embung dan pemandangan pohon pinus menjadikan suasana hati menjadi teduh diteriknya panas. Terdapat beberapa warung namun saat saya mengunjungi hanya ada satu warung yang berjualan.
Tangga menuju embung 
pepohonan disekitar Embung Estumulyo

Tidak adanya tempat sampah disekitar embung membuat pengunjung bisa saja membuang sampah sembarangan. Salah satu sisi embung, saya melihat ada beberapa bungkus makanan ringan yang tercecer. Jika ini dibiarkan terjadi sampah dapat menodai keindahan ini. Selayaknya pemerintah Kab Nganjuk bekerjasama dengan Dinas Perhutani segera melakukan tindakan pengelolaan sampah agar panorama itu tetap elok dan cantik.
Embung Estumulyo
Kondisi cuaca tak menentu, kami bergegas untuk berpindah tempat. Selama perjalanan kami saling bertegur sapa dengan kakek-nenek yang berjalan kaki menaiki dan menuruni bukit. Usia renta tak menghalangi mereka untuk beraktifitas misalnya pergi ke ladang dan pulang membawa beberapa potong kayu dengan selembar kain sebagai tompangan kayu dipunggung mereka. Allah memberikan kekuatan kepada manusia yang luar biasa, disaat era modern dimajakan teknologi, tapi mereka tetap berjalan kaki dengan fisik yang prima dibandingan seusia mereka yang sedang bergejolak macam penyakit menjadi suatu ancaman dan adapun sebagai teman setia mereka. Disaat elpiji telah lama terdistribusi di Jawa mereka tetap menggunakan kayu untuk memasak karena elpiji menjadi barang langka ketika mereka bertempat tinggal dipelosok yang jauh dari akses menuju kota.

SEDUDO
Merahnya bunga yang cantik yang terhalangi durinya menjadi kemanjaan kesekian kalinya diperjalanan. Masyarakat menanam bunga mawar hutan bukan sebagai hiasan rumah belaka, tapi juga sebagai ladang usaha perekonomian mereka. Hawa yang sejuk menjadikan tempat ini cocok untuk berkebun, ada beberapa bunga seperti krisan tumbuh subur. Jika aparat dan pemerintah daerah serius mengembangkan potensi wisata, daerah ini sangat berpotensi misalnya perkampungan bunga mawar, kampung durian, kampung alpukat dan masih banyak lagi seperti di wilayah blitar terdapat wisata kampung cokelat, di kediri wisata petik nanas atau strawberry. Selain itu aliran sungai yang melewati bebatuan di daerah ini berpotensi digunakan sebagai arum jeram.
Kebun Mawar hampir disetiap perkarangan rumah dapat kita jumpai 

Sedudo adalah tujuan akhir dari wisata hari ini. Sudah tak asing lagi jika ke Nganjuk yang terkenal adalah air terjunya terutama  ramai saat dibulan Suro. Saya sendiri sebagai orang Nganjuk belum pernah kemari, ini juga merupakan kali pertama bagi mas yanuar dan kesekian kali bagi Nuh.  Petugas menarik karcis sebesar 5000 /pengunjung dan lokasinya antara tiket-air terjun masih relatif jauh dan masih harus menanjak lagi dengan gigi 1 dan dialah satu sisi bahu merupakan jurang yang lumayan curam. Jika anda menjumpai lokasi parkir itu merupakan tanda bahwa tempat  grojokan sudah dekat. Kami lanjut menuruni tangga untuk mendekati air terjun dan adanya peringatan yaitu pengunjung dilarang untuk mendekati grojokan atau mandi di grojogan ditakutkan adanya kayu atau batu yang terbawa aliran sungai dari atas tebing.

icon Sedudo 

Air Terjun Sedudo 

Puas menikmati wisata Sedudo, Nuh mengajak kami untuk beristirahat sejenak di rumahnya di daerah Wilangan. Dari Sawahan menuju Wilangan disuguhkan pemandangan hutan jati ibarat kampung berada di tengah tengah hutan. Lengkap sudah perjalanan wisata hari ini menelususri lereng Gunung Wilis dan hujan mengiringi kami saat menuju Tanjungkalang

Thanks so much
Nuh Handareka untuk kesempatan waktunya. Niat awal mau single traveller jadi main bareng . Sekian lama tak bertemu, dulu kita mempunyai rencana main bareng. Cerita tentang rumahmu yang berada ditengah alas hutan masih teringat jelas dipikiranku sejak SMP. Pertemuan tanpa sengaja menjadikan main bareng sunguh menyenangkan dan indra penglihatanku menikmati cerita hutan-hutan yang mengelilingi kampungmu .

KYSyam yang tidak pernah kapok-kapoknya menami saya untuk kesekian kalinya explore ditempat-tempat baru.  

Artikel Terkait