badge

Monday, 25 January 2016

Paket Kerinduan dari Tanah Empat Raja (Raja Ampat)

Siang ini, pukul 11.00  WIB sebuah motor orange berhenti di depan rumah. Ia membuka tas hitam besar yang diletakkkan di bahu jok motornya. Suara bapak yang memangil namaku “Nita, Ada pak pos, ada paketan dari Sorong!!” membuat saya bangun dari kursi merah, lalu berlari kecil kearah sumber suara. Sebuah paket terbungkus rapi dengan jelas tertera namaku di paket itu, ujung bawah terdapat tulisan yang tak asing “Rangga and Salsabila Raja Ampat”  kemudian pak pos memintaku untuk menandatangani resi.

Yap...itu merupakan paket dari kedua anak yang selalu saya rindukan selama lima bulan sejak  meninggalkan tanah leluhur dari keempat Raja. Rangga dan Caca merupakan  anak dari pasangan dari Bapak Asnan dan Ibu Fadillah. Mereka sudah selayaknya keluarga sendiri saat saya bersama teman tugas mengabdi selama satu tahun.  Rangga merupakan putra pertama  dan saat ini menginjak bangku SD kelas IV di SDN 16 Lilinta, sedangkan caca merupakan anak kedua, dipertengahan tahun 2015 ia usai menyelesaikan bangku Taman Kanak-Kanak dan melanjutkan di sekolahan yang sama dengan kakaknya
.
Ternyata paketan ini berisi makanan favorit saat saya disana yaitu ikan tumbuh (abon) dan beberapa sagu. Susah cari sagu di Jawa apalagi pohonnya.

paketan


Aroma sagu yang khas, sagu kering 

Ikan tumbuh atau abon

Awal bulan Februari, keluarga ini akan melangsungkan kegiatan Sunatan untuk kedua anak mereka. Sunatan untuk  laki-laki dan wanita yang sudah cukup usia. Memang ada yang berbeda, saat ini melakukan khitan hanya untuk laki-laki.  

Sebelum dilaksanakan acara, diadakan pertemuan keluarga untuk menentukan waktu. Disini ketua adat, kepala kampung dan imam juga turut berperan. Setelah mendapatkan kesepakatan maka diumumkan kepada masyarakat pelaksanaan kegiatan diharapkan warga kampung bersiap-siap untuk membantu kegiatan seperti ibu-ibu membantu memasak, dan bapak-bapak mencari ikan laut dan menyiapkan tempat.

Sehari sebelum acara dilaksanakan kegiatan baca doa bersama, kemudian paginya dilaksanakan khitan dan dilanjutkan puncak acara yaitu saling bersalaman/ famajal  kepada orang tua serta anak-anaknya yang dikhitan. Uniknya disini adalah acara famajal dibagi menjadi tiga. Yang pertama famajal dari pihak keluarga bapak saling bersalaman dan memberikan salam tempel. Saat memberikan ada yang mencium, memeluk, hingga memberikan makanan ke mulut bapak tersebut seperti pinang atau yang lainnya. Itu merupakan ungkapan kebahagiaan kepada keluarga. Kemudian dilanjutkan Keluarga Ibu dan terakhir adalah Umum/masyarakat umum.  Hasil dari Famajal diumumkan diakhir acara.

Setelah acara selesai dilanjutkan hiburan yaitu lompat gabah dari 4 bilah bambu/pelepah sagu yang disusun silang lalu diiringi suara pukulan tipa/rabbana dan nyanyian mengunakan bahasa daerah. Pemain akan melompat ke dalam belah bambu yang terbuka. Permaian ini tak mengenal usia, tua-muda saling asik memainkan permainan tradisional ini.

Rindu sekali dan ingin menghadiri acara itu, hanya bisa memandang melalui gambar sambil ditemani secangkir kopi dan sagu yang dapat mengobati kerinduan .  


Artikel Terkait